Welcome to My Blog

I don't write because I want to say something I write because i have something to say -F.Scott-

Gunadarma

Gunadarma University

Teknik Komputer dan jariangan

It's offcourse explain about Computer and Networking

background:url(https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ8BekCE2cTNLLKiLjRGukvmLt4PLdZoFnIy7huyNJ600khkDtI1gy6oOPouqgXdb7gvG4LLqIFAtvHR0S1sezuUUaCDvlcldxkSesJy7C1EWz5H_M8QkQLQNl8YH3-sAGbHedIoW7qUp3/w986-h104-no/footer.png);padding:20px 0;margin-top:14px;

Sabtu, 10 September 2016

Karya Tulis Ilmiah : Minat Membaca Siswa TKJ1-1 Kelas X SMKN 1 Jakarta




Bab I
Pendahuluan
                                                    
I. 1.      Latar Belakang Masalah

Memabaca tak hanya terjadi pada zaman sekarang.Melainkan, membaca sudah terjadi sejak lama. Proses membaca sama sekali tak mengalami perubahan. Prosesnya hanya menafsirkan tulisan atau lambang.Yang berubah bukanlah membaca melainkan tulisan yang terus mengalami perbaikan
Membaca begitu penting.Dengan pengalaman sebagai guru, mata sebagai jendela pengetahuan, alat indera yang lengkap, jasmani dan rohani yang sehat serta kemampuan membaca untuk menambah wawasan, tentulah orang tersebut dapat sukses.Membaca tak hanya menjadi kunci untuk sukses bahkan pegangan setiap individu untuk bertahan hidup.Contohnya, saat seseorang tak dapat membaca kode kadarluwarsa makanan tersebut. Hal tersebut akan membawa orang tersebut menuju kematian. Jadi, dapat dibenarkan bahwa membaca merupakan salah satu faktor individu untuk bertahan hidup.Begitu jelas manfaat membaca bagi setiap individu. Oleh kerena itu, membaca ialah kewajiban bagi setiap individu
Hampir setiap individu di dunia ini dapat membaca tetapi tak semua individu tersebut minat membaca. Begitu pula minat membaca siswa jurusan TKJ 1 kelas X di SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1. Tak sedikit orang yang sama sekali tak memiliki minat untuk membaca. Tujuan membaca setiap orang yang menaruh minat membaca ataupun tidak juga berbeda.Ada yang membaca dengan tujuan refreshing, menambah wawasan, tugas ataupun agar dianggap pandai atau rajin.Hakikatnya, mereka yang tak menaruh minat membaca tidak menjadikan membaca sebagai sebagai minat yang menyenangkan dan menguntungkan, melainkan hal yang mereka harus lakukan mau tidak mau.inilah yang harus diluruskan. Perbedaan prospektif dan penafsiran tentang tanggapan membaca inilah yang salah dan perlu diluruskan.
Banyak sekali macam bacaan seperti artikel, novel, cerita pendek (cerpen) dan buku pelejaran.Dari berebagai macam jenis bacaan, setiap indvidu pasti juga manaruh minat yang beragam terhadap bacaan tersebut. Selain itu, dalam hal membaca masing-masing individu mempunyai durasi waktu yang tak menentu dan berbeda satu sama lain. Durasi inilah dan jenis bacaan juga menetukan minat membaca  padasiswa jurusan TKJ 1 kelas X di SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1.
Faktor internal ataupun eksternal pendorong ataupun penghalang juga menjadi penentu untuk menjadikan membaca sebaigai minat.Faktor-faktor tersebut tentunya berbeda antar individu.Maka dari itu, disini disajikan berbagai hal tentang minat membaca, mulai dari tujuan dan tanggapan tenatnag membaca, waktu untuk membaca, jenis bacaan yang di baca, serta faktor pendorong atau pun penghambat hal dalam membaca. Hal-hal tersebutlah yang akan membawa menuju kesimpulan tentang minat membaca

I. 2.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal yang melatarbelakangi minat membaca pada siswa jurusan TKJ 1 kelas X SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1, Kami menarik masalah yang di uraikan dalam beberapa poin, yaitu
a.    Besarnya minat membaca pada siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
b.    Tanggapan para siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta tentang membaca
c.    Tujuan membaca para siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
d.   Bacaan yang diminati para siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
e.    Durasi membaca para siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
f.     Faktor pendorong minat membaca pada siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
g.    Faktor penghambat minat membaca pada siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta

I. 3.      Perumusan Masalah
Atas dasar penentuan latar belakang dan identiikasi masalah diatas, maka kami dapat mengambil perumusan masalah , yaitu:
“seBerapa besar minat membaca para siswa jurusan TKJ 1 kelas X SMK Negeri 1 Jakarta dan hal-hal  apa saja yang turut  mempengaruhinya?”

I. 4.      Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami pilih adalah dengan menggunakan angket. Dengan sampel siswa jurusan TKJ1 kelas X.

I. 5.      Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini ialah agar para pembaca dapat mengetahui berbagai hal tentang minat membaca, mulai dari tujuan dan tanggapan tentanag membaca, waktu untuk membaca, jenis bacaan yang banyak di minati, serta faktor pendorong atau pun penghambat hal dalam membaca.

I. 6.      Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini ialah, sebagai berikut:
a.    Agar peserta didik ataupun pembimbing dapat meluruskan dan membenarkan sudut pandang tentang tujuan dan tanggapan minat membaca
b.    Memperbesar minat membaca sesuai dengan jenis bacaan yang di minati oleh masing-masing individu siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta
c.    Dapat mengantisipasi secara tepat faktor penghambat minat membaca dan juga dapat mengefisiensikan faktor pendorong sehingga masing-masing dari siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta memiliki minat untuk membaca

I. 7.      Hipotesis Penelitian
HA: Terdapat minat baca pada siswa jurusan TKJ 1 kelas XSMK Negeri 1 Jakarta

I. 8.      Sistematika Penelitian
Bab I   Pendahuluan
            I.1 Latar Belakang Masalah
            I.2 Identifikasi Masalah
            I.3 Perumusan Masalah
            I.4 Metode Penelitian
            I.5 Tujuan Penelitian
            1.6 Kegunaan Penelitian
I.7 Hipotesis Penelitian
            I.8 Sistematika Penulisan
 Bab II Landasan Teori
 II.1 Kajian Teori
                     II.1.1. Minat
                     II.1.2. Membaca
 II.2 Landasan Berpikir
Bab III Metodelogi Penelitian
 III.1 Tempat dan Waktu Penelitian
 III.2 Pemilihan Subjek
 III.3 Metode Penelitian
Bab IV Hasil Penelitian
 IV.1 Analisi Data
 IV.2 Hasil Analisi
Bab V Penutup
V.1 Kesimpulan
V.2 Kritik dan Saran
Lampiran
Bab II
Landasan Teori
II. 1 Kajian Teori
      II. 1. 1 Minat
       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Minat dan kebiasaan adalah dua pengertian yang berbeda tetapi berkaitan. Pengertian minat menurut Poerbakawatja(19982:214)adalah “kesedian jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar”.
Minat dibedakan menjadi 2(dua) macam, yaitu: Minat Spontan dan Minat Terpola. Minat Spontan adalah minat yang tumbuh secara spontan dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh pihak luar (Dawson dan Bamman, 1960:31).Minat Terpola adalah minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh dan kegiatan yang berencana atau terpola terutama kegiatan belajar mengajar, baik disekolah maupun diluar sekolah (Dawson dan Bamman, 1960:15).Minat Terpola dapat dipersamakan dengan factor eksternal, yang secara konkrit merupakan akibat dari motivasi ekstrinsik.Dengan demikian minat dapat internal maupun eksternal.Pengertian ini sejalan dengan pendapat yang menyebutkan bahwa minat dan motivasi dapat timbul dari kesadaran dan inisiatif diri seseorang dan dapat timbul dari pengaruh luar, dalam bentuk-bentuk yang terpola atau tidak terpola (Dawson dan Bamman, 1960:140-144).
Sandjaja (2006:2) mengungkapkan bahwa secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu.Minat juga diartikan sebagai sikap positif seseorang terhadap aspek lingkungan.Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang.Hal ini sependapat dengan definisi yang disampaikan oleh Kamisa (1997:370) yang menyatakan minat adalah kehendak, keinginan atau kesukaan. Pengertian lain tentang minat dituturkan oleh Usman dan Juhaya (1985:69), mereka menyatakan bahwa minat adalah memusatkan kegiatan mental dan perhatian terhadap suatu objek yang banyak sangkut pautnya dengan keadaan dari individu.

Senada dengan teori yang digagaskan oleh Usman dan Juhaya di atas Arnold _1980:1007_ menyatakan pendapatnya bahwa : “Interesse ist der Konstrukt einer Disposition zu verhalten oderHadlungstendenzen, die auf Gegenstände, Tätigkeiten, oder Erlebnissegerichtet sind, interindividuell variieren nach Intensität (und Generalität)“. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa minat merupakan suatukecenderungan sikap atau tindakan seseorang yang diarahkan pada suatuobjek, kegiatan atau pengalaman yang antar individu bervariasi menurutintensitas.
Dalam kedua teori di atas, minat dikaitkan dengan kegiatan mental dan perhatian terhadap suatu objek, apakah objek yang dimaksud berupa benda, manusia atau kegiatan lainnya. Lebih jelas Schifele (1990 : 14) berpendapat bahwa ” Interesse wirdgrundsätzlich als Relation zwischen Personen und Gegenständen definiert ” Schifele mendefinisikan minat sebagai hubungan antara manusia dan benda. Pendapat ini mempertegas kedua pendapat yang disampaikan oleh Usman- Juhaya dan Arnold yang mengungkapkan bahwa objek yang dimaksudadalah sebuah benda.
Sementara itu Good (1992: 6) mengemukakan gagasannya sebagai berikut, “Interest is subjective-objective attitude, concern or condition involving apercept or idea in attention and combination of intellectual and feelingconsciousness; may be temporary or permanent; based on native curiously,conditioned by experience“. Menurut Good, minat adalah sikap, perhatian atau kondisi subjektif objektif seseorang yang meliputi persepsi atau gagasan dalam memberikan perhatian pada suatu hal dan merupakan kombinasi dari kesadaran intelektual serta perasaan yang bersifat sementara atau permanen dalam diri seseorang, dan tergantung pada keingintahuan dan pengalamannya.
Pendapat lain tentang minat diungkapkan oleh Gunarso, (1995:68) ia menyampaikan bahwa minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap, minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya.
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa antara sikap dan minat terdapat kaitan yang berkesinambungan sehingga menuntut seseorang untuk gigih melakukan sesuatu karena telah menarik minatnya.
Pernyataan Gunarso didukung oleh Meichati (1972) yang menyatakan bahwa minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas.Berdasarkan teori dari Gunarso dan Meichati tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa minat pada dasarnya sesuatu yang bersifat individual atau personal dan menuntut seseorang untuk gigih serta tekun dalam menjalankan hal atau sesuatu yang menarik baginya.
Menurut Crow (1972:10) minat seseorang dapat berubah disebabkan oleh berbagai faktor. Sebagaimana dikatakannya :“Interest constantly undergoes change. From early years, individual’sinterests are affected by his physical condition, his mental and emotionalstatus, and his changing social environment. Interests are fleeting at first butby the end of adolescence, many of them become relatively fxed. Moreover,changes in interests follow closely the developing patterns of socialbehavior.”
Minat akan berubah secara konstan (tetap). Pada tahun-tahun pertama minat seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik, mental, kesadaran emosional dan perubahan lingkungan sosial.Pada mulanya minat seseorang berjumlah banyak dan bermacam-macam serta dapat berubah-ubah, tetapi di akhir usia remaja di antara minat itu menjadi relatif tetap. Terlebih lagi perubahan minat dipengaruhi oleh perkembangan pola perilaku sosial lingkungan sekitarnya.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa minat merupakan suatu kecenderungan sikap atau tindakan seseorang yang diarahkan pada suatu objek atau situasi tertentu yang memiliki sangkut paut dengan dirinya dan melibatkan perhatian, pengalaman, emosi, serta perasaannya yang didasarkan pada keinginan murni yang dibentuk oleh suatu kegiatan dan pengalaman. Minat tersebut akan timbul dan terus tumbuh pada diri seseorang, apabila orang tersebut dapat merasakan kebutuhan dan manfaatnya di dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring dengan pengertian minat di atas, minat dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Witherington (1999:26) membedakan minat dalam dua jenis yakni :
  1. Minat primitif disebut pula minat biologis, yaitu minat yang berkisar soal makanan dan kebebasan aktifitas.
  2. Minat kultural disebut juga minat sosial yaitu minat yang berasal dari perbuatan yang lebih tinggi tarafnya.
Berdasarkan hal di atas dapat dikatakan bahwa minat dapat timbul dari dalam diri seseorang sesuai dengan kebutuhan biologis yang menyangkut kebebasan beraktifitas dan menentukan selera dan dapat pula timbul dari pengaruh lingkungannya melalui proses pembelajaran, sehingga dapat terlihat seseorang yang memiliki kemauan atau ketertarikan terhadap sesuatu akan ditentukan oleh arah minatnya.
Berdasarkan cara memperoleh datanya, Super dan Crites dalam Kristiani (1992:12), mengklasifikasikan minat sebagai berikut:
  1. Ekspresi minat adalah minat yang ditentukan oleh sikap, apakah ia suka terhadap suatu objek, aktivitas atau pekerjaan tertentu.
  2. Manifestasi minat yaitu minat yang terlihat dari partisipasi seseorang pada suatu aktivitas.
  3. Tes minat merupakan minat individu yang cenderung diukur berdasarkan tes yang menggunakan alat ukur.
  4. Inventarisir minat adalah minat individu yang diketahui melalui inventori yang memuat sejumlah pertanyaan dan daftar berbagai macam kegiatan.
Berbeda dengan pendapat Super dan Crites, Surya (1981:69) mengelompokkan minat berdasarkan proses belajar mengajar, yaitu :
  1. Volunter, yakni minat yang timbul secara suka rela dari dalam diri tanpa ada pengaruh dari luar.
  2. Involunter adalah minat yang timbul dari dalam diri dengan pengaruh suatu situasi yang diciptakan pengajar atau oleh lingkungan.
  3. Non volunter merupakan minat yang timbul secara dipaksakan.
Pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa minat memiliki berbagai macam jenis dan sifat yang berbeda-beda. Hal ini dapat terlihat dari jenis minat yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitasnya, perolehan data sampai pada proses belajar mengajar yang disesuaikan dengan sifat dan pengaruh yang nantinya akan mengantarkan seseorang memiliki minat tersebut.
Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi minat tersebut seperti yang disampaikan oleh Aiken dalam Zulkarnain (1997) adalah:
  1. Fortuitous Experiences (Pengalaman secara kebetulan).
  2. Reflection or expressions of deep-seated individual needs and
  3. personality traits (Cerminan atau pernyataan dari kebutuhan individu dan ciri pribadi yang mengakar secara mendalam).
  4. Environment (Lingkungan sekitarnya).
  5. Sexes (Jenis kelamin).
  6. Parental Behavior (Sikap orang tua).
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan minat seseorang pada dasarnya akan berubah secara konstan dan perubahan itu dipengaruhi oleh usia seseorang, jenis minatnya dan berbagai macam faktor yang di antaranya adalah
1.      faktor pengalaman (Fortuitous Experiences),
2.      cerminan (Reflection or expressions of deep-seated individual needs and personality traits)
3.      lingkungan (Environment)
4.      jenis kelamin (Sexes)
5.      perilaku/sikap orang tua. (Parental Behavior)
 
II. 2 Membaca
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1996:72), membaca adalah melihat dan memahami isi yang tertulis serta melafalkan apa yang tertulis.
Membaca diartikan Kolker (1983: 3) sebagai suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis. Hakekat membaca ini menurutnya ada tiga hal, yakni afektif, kognitif, dan bahasa.Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa anak.
Berbeda dengan pendapat Kolker, Doglass dalam Cox (1988) memberikan definisi membaca sebagai suatu proses penciptaan makna terhadap segala sesuatu yang ada dalam lingkungan tempat pembaca mengembangkan suatu kesadaran. Sejalan dengan itu Rosenblatt dalam
Tompkins (1991) berpendapat bahwa membaca merupakan proses transaksional. Proses membaca berdasarkan pendapat ini meliputi langkahlangkah selama pembaca mengkonstruksi makna melalui interaksinya dengan teks bacaan. Makna tersebut dihasilkan melalui proses transaksional.Dengan demikian, makna teks bacaan itu tidak semata-mata terdapat dalam teks bacaan atau pembaca saja.
Adapun hal yang paling penting dalam membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Seperti yang diungkapkan Juel dalam Soejanto (2006) bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Farris (1993: 304) bahwa membaca merupakan pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasangagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
Ehlers (1992: 4) menuturkan hal yang senada dengan Farris, yakni “Lesen ist eine Verstehenstätigkeit, die darauf zielt, sinnvolleZusammenhänge zu bilden, Sie wird auf der einen Seite gesteuert von demText und seiner Struktur auf der anderen Seite von dem Leser, der seinVorwissen, seine Erfahrung, seine Neigungen und sein Interesse an einen Textheräntrag“.Menurut pendapatnya, membaca adalah suatu kegiatan memahami yang bertujuan untuk membentuk hubungan-hubungan yang bermakna.
Pemahaman ini di satu sisi dipengaruhi oleh teks dan strukturnya, di sisi lain dipengaruhi oleh pembaca itu sendiri, yang berupa pengetahuan awal, pengalaman, dan minat terhadap teks yang dibacanya.
Senada dengan pendapat Ehlers, Kridalaksana (1992:105), mengungkapkan bahwa : membaca adalah menggali informasi teks. Definisiini menunjukkan bahwa pada dasarnya membaca melibatkan dua hal, yaitu ;
1). Pemahaman menyiratkan adanya pembaca
2). Teks yang menyiratkan keberadaan penulis Di sini penulis berperan sebagai pengirim informasi dan pembaca berperan sebagai penerima informasi.
Pernyataan Kridalaksana di atas didukung oleh Rampillon _1989:85) yang mengatakan ”Wir lesen Briefe, Zeitungen, Sachbücher, usw, um in ihnenenthaltenen Informationen aufzunehmen.” Intinya adalah apabila seseorang membaca, berarti ia mempunyai tujuan untuk mendapatkan informasi yang terdapat dalam bacaan yang dibacanya.
Pendapat yang hampir senada dengan Ehlers dikemukakan oleh Lutherman dalam Jung (1992: 290) bahwa: ”Lesen ist eine komplexeTätigkeit, bei der viele Kenntnisse, Fähigkeit und Psycologische Faktoreneine Rolle spielen, die individuell sehr unterschiedlich sein können.”
Kegiatan membaca merupakan kegiatan kompleks dan melibatkan beberapa faktor yang mencakup pengetahuan yang luas, kemampuan memahami dan faktor psikologi.Faktor-faktor tersebut berbeda-beda pada setiap individu.
Leveau memberikan definisi membaca yang berbeda, namun memiliki makna yang senada dengan pendapat Ehlers dan Lutherman (1985:61), yakni: “Lesen ist eine Funktion des Zusammenwerkens von u.a. Aufmerksamkeit,dem Erkennen von Merkmalen der Textstruktur und deren Beziehungen derSpeicherung im Gedächtnis, der Antizipation von Äußerungsteilen“.Pernyataan tersebut mengandung pengertian bahwa membaca merupakan fungsi kerjasama dari perhatian, pengenalan dari ciri struktur teks dan hubungannya dengan penyimpanan dalam ingatan, antisipasi dari bagian ungkapan.
Dari berbagai definisi atau pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memahami atau memperoleh informasi dari suatu bacaan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya ; pengetahuan awal, pengalaman, serta minat terhadap teks yang dibacanya. Oleh karena itu sebagaimana dikatakan Wulan (2009), untuk dapat memahami bacaan dengan baik seseorang harus memiliki intelegensi dalam taraf normal, penguasaan kosakata yang banyak, sikap positif terhadap kegiatan membaca, serta berminat untuk membaca. Agar kemampuan membaca meningkat, jalan yang harus ditempuh adalah dengan meningkatkan jumlah pengusaaan kosakata, mengubah sikap terhadap membaca menjadi lebih positif, dan meningkatkan minat baca.
Seperti yang disampaikan Crow sebelumnya bahwa minat seseorang dapat berubah di antanya disebabkan oleh faktor usia. Begitu pula halnya dengan minat membaca, sebagaimana dikatakannya :......”as children grow older, their interest change to the reading of thenewspaper, and favorite magazine or other reading matter that has apractical approach. Contrary, girls may select some of these readingmaterials but they are more likely to read romantic novels, stories about otherpeople, or poetry. Both boys and girls tend to read magazines found inhome.” (1972 : 113-114).Menurut Crow saat usia anak bertambah, minat membaca mereka akan berubah dan lebih suka membaca surat kabar, majalah favorit atau bahan bacaan yang menggunakan pendekatan praktis. Sebaliknya anak perempuan dapat memilih berbagai materi bacaan, tetapi mereka lebih menyukai bacaanbacaan berupa novel romantis, kisah tentang orang lain atau puisi. Baik, anak laki-laki maupun perempuan cenderung memilih membaca majalah yang ditemukan di rumah.
Dari rangkaian pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga mereka melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri.
Pengertian membaca dibagi menjadi tiga kelompok yaitu
(1)   Kelompok pertama, membaca adalah pengalaman secara umum.
Menurut Frank Jennings (1965), Membaca dimulai dengan peristiwa yang sering datang.
(2) Kelompok dua, membaca adalah lambang grafis. Menurut Rudolf Flesch (1995), Membaca yaitu kegiatan untuk memperoleh makna dari golongan huruf. Menurut Charles Fries (1962), Membaca yaitu pengembangan kemampuan yang bermacam-macam terhadap bangun grafis yang khas.
(3) Kelompok tiga, Membaca adalah gangguan definisi. Menurut Ernest Horn (1937), Membaca yaitu kegiatan meliputi proses penyempurnaan dan pelestarian makna melalui penggunaan kertas tulis. Menurut David Russel (1960), Membaca adalah kegiatan yang rumit dan komplek. Ciri- cirinya dianalisis melalui empat tahapan yaitu sensasi, persepsi, pemahaman dan pemanfaatan.
Fungsi membaca menurut Mortimer J.Adler (1940), Membaca adalah alat utama yang dimiliki seseorang untuk kehidupan yang baik.Keterampilan berbahasa terdiri dari empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Menurut H. G Tarigan (1990 : 9-10), tujuan membaca yaitu mencari dan memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna membaca.
Tujuan membaca secara rinci yaitu
(1) Untuk memperoleh fakta
(2) Untuk memperoleh ide pokok
(3) Untuk mengetahui organisasi cerita
(4) Untuk menyimpulkan dan mengklasifikasikan
(5) Untuk mengelompokkan dan mengevaluasi
(6) Untuk membandingkan dan mempertentangkan.
Menurut Brughton (Tarigan, 1990 :11-12), dua aspek membaca yaitu
1. Keterampilan yang bersifat mekanis berada pada urutan lebih rendah tentang :
(a) Pengenalan bentuk huruf
(b) Pengenalan unsur intrinsik
(c) Pengenalan hubungan tentang ejaan dan bunyi
(d) Kecepatan membaca lambat.
2.Keterampilan bersifat pemahaman berada urutan yang lebih tinggi tentang :
(a) Memahami pengertian yang sederhana
(b) Memahami makna
(c) Evaluasi atau penilaian
(d) Kecepatan membaca yang fleksibel sesuai keadaan untuk mendapatkan sesuatu yang jelas.
Jenis-jenis membaca
Menurut Tarigan (1990 :12), kegiatan yang sesuai yaitu membaca nyaring dan membaca suara sedangkan untuk pemahaman yaitu membaca dalam hati.
Membaca dalam hati dibagi menjadi dua yaitu
1. Membaca ekstensif.
Membaca ekstensif yaitu membaca untuk memahami isi dengan cepat. Membaca intensif dibagi menjadi dua yaitu
1.  Membaca telaah isi.
Membaca telaah isi dibagi menjadi empat bagian yaitu :
·         Membaca teliti.
Membaca teliti yaitu membaca yang menuntut penuturan atau pembalikan pendidikan yang menyeluruh.
·         Membaca pemahaman.
Membaca pemahaman yaitu membaca yang tujuannya untuk memahami standar atau norma kesastraan, resensi kritis, drama tulis, pola-pola fiksi. (Tarigan, 1990 : 56)
·         Membaca kritis.
Membaca kritis yaitu membaca yang dilakukan dengan tenggang hati, evaluatif, analisis bukan mencari kesalahan. (Tarigan, 1990 : 89)
·         Membaca ide.
Membaca ide yaitu membaca untuk mencari, menemukan, dan memahami ide atau gagasan dalam bacaan. (Tarigan 1990 : 116)
Perubahan fungsional kualitatif yaitu perubahan fungsi mutu kemampuan membaca.Sedangkan perubahan progresif secara kuantitatif yaitu perubahan jumlah kata dalam membaca.
2.  Membaca telaah bahasa.
Membaca telaah bahasa yaitu membaca dengan memperbanyak pendaharaan kata dan mempelajari serta mengembangkan menjadi kaimat. (Tarigan,1990 : 120)
 Membaca telaah bahasa dibagi menjadi dua bagian yaitu :
·         Membaca telaah asing.
Membaca telaah asing yaitu membaca dengan memperbanyak pendaharaan kata dan dipelajari untuk memahami kata-kata asing dalam bacaan.
·         Membaca sastra.
Membaca sastra yaitu membaca yang membutuhkan kamampuan pembaca untuk memahami bahasa dan sastra serta untuk memiliki rasa intuisi dalam karya sastra.
·         Membaca dan perkembangan insan
Perkembangan adalah perubahan progresif dalam isi atau kualitas individual menekan aspek psikis.
Membaca telaah isi yaitu membaca yang menuntut ketelitian, pemahaman, kritis berfikir dan menangkap ide dalam bacaan.
2. Membaca intensif.
Membaca intensif yaitu mempelajari dengan seksama, menelaah dengan teknik dan terperinci dilakukan dikelas terhadap tugas yang perkiraan dua sampai empat halaman setiap hari. (Tarigan, 1990 : 35). Membaca ekstensif dibagi menjadi tiga yaitu :
·         Membaca survei.
Membaca survei yaitu sebelum membaca, kita harus meneliti bacaan dengan sekilas.
·         Membaca sekilas.
Membaca sekilas yaitu kegiatan membaca agar pembaca melihat dengan cepat dan memperhatikan bacaan untuk nencari dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan. (Tarigan, 1990 : 32)
·         Membaca dangkal.
Membaca dangkal yaitu membaca untuk kesenangan dan dilakukan di waktu senggang. (Tarigan,1990 : 34)
           
II. 2 Landasan Berfikir
Dari uraian tersebut dapatlah diketahui bahwa membaca bukanlah obyek dari minat tetapi membaca merupakan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi minatnya.Melalui membaca, informasi dan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan dapat diperoleh.Inilah motivasi pokok yang dapat mendorong timbul dan berkembangnya minat anak. Apabila minat ini sudah tumbuh dan berkembang, dalam arti bahwa anak sudah dimulai suka membaca, maka minat bacapun akan meningkat. Membaca merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan tidak hanya pengetahuan tetapi juga hasil belajar, karena dengan membaca membuat mereka jadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa yang tinggi.Dengan membaca selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkan kreativitas berfikir.
Tingkat pemikiran seseorang dapat diamati dari kebiasaan dia membaca, kegiatan membaca akan menimbulkan seseorang. Dalam membaca, ada tingkatan tertentu yang menentukan kemahiran seseorang dalam membaca.Salah satunya dengan membaca ekstensif.Kegiatan membaca ini dapat dilakukan dengan tidak mengeluarkan suara, tidak menunjukan bacaan, serta kepala tidak mengikuti arah bacaan.Kegiatan membaca ekstensif ini berhubungan dengan kemahiran Anda dalam memahami isi pokok-pokok bacaan.Dalam hal ini, Anda semaksimal mungkin memanfaatkan waktu baca dan mengingat kembali pokok-pokok dalam bacaan. Dalam membaca ekstensif, Anda dituntut untuk menyapu seluruh isi bacaan tanpa mengulang kalimat atau kata-kata yang pernah dibaca (Adi Abdul Somad, 2008)
Minat dan kebiasaan adalah dua pengertian yang berbeda tetapi berkaitan. Pengertian minat menurut Poerbakawatja(19982:214)adalah “kesedian jiwa yang sifatnya aktif untuk menerima sesuatu dari luar”. Minat dibedakan menjadi 2(dua) macam, yaitu: Minat Spontan dan Minat Terpola. Minat Spontan adalah minat yang tumbuh secara spontan dari dalam diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh pihak luar (Dawson dan Bamman, 1960:31).Minat Terpola adalah minat yang timbul sebagai akibat adanya pengaruh dan kegiatan yang berencana atau terpola terutama kegiatan belajar mengajar, baik disekolah maupun diluar sekolah (Dawson dan Bamman, 1960:15).Minat Terpola dapat dipersamakan dengan factor eksternal, yang secara konkrit merupakan akibat dari motivasi ekstrinsik.Dengan demikian minat dapat internal maupun eksternal.Pengertian ini sejalan dengan pendapat yang menyebutkan bahwa minat dan motivasi dapat timbul dari kesadaran dan inisiatif diri seseorang dan dapat timbul dari pengaruh luar, dalam bentuk-bentuk yang terpola atau tidak terpola (Dawson dan Bamman, 1960:140-144).
Berdasarkan landasan teori di atas, disusun kerangka berpikir untuk melihat hubungan antara minat membaca dan penguasaan kosakata (Wortschatz). Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa minat membaca adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk memperhatikan, merasa tertarik dan senang terhadap aktivitas membaca, sehingga mereka melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri. Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, frekuensi membaca dan kesadaran akan manfaat membaca. Seseorang yang memiliki minat membaca yang tinggi maka ia akan selalu meluangkan waktunya untuk terus melakukan kegiatan membaca karena hal itu merupakan suatu yang menyenangkan baginya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dengan minat membaca yang tinggi maka frekuensi 24 membaca seseorang pun akan meningkat dan dengan membaca ia dapat mempelajari berbagai unsur penting dalam teks yang dibacanya. Adapun manfaat yang diperoleh dari membaca di antaranya adalah dapat menguasai banyak kosakata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat, lebih lanjut lagi dapat meningkatkan kemampuan untuk menyerap konsep dan memahami apa yang tertulis dan tersirat dalam bacaan tersebut.
Seperti halnya dengan pernyataan Wulan (2009) bahwa meningkatnya kosakata seseorang secara tidak langsung dipengaruhi oleh keterampilan membaca dan minat membaca seseorang. Pernyataan tersebut jelas menunjukkan adanya keterkaitan antara minat membaca dan penguasaan kosakata, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi minat membaca seseorang maka semakin tingi pula kuantitas serta kualitas kosakatanya.
Begitu juga sebaliknya semakin rendah minat membaca seseorang maka semakin rendah pula kuantitas dan kualitas kosakatanya, sehingga secara tidak langsung akan memperngaruhi kualitas keterampilan berbahasa seseorang. Dengan kata lain diduga terdapat hubungan yang positif antara minat membaca dan penguasaan kosakata.

Bab III
Metodelogi Penelitian

III. 1 Tempat dan Waktu Penelitian
Tenpat dan waktu penelitian yang Kami ambil adalah ruang lingkup SMK 1 Jakarta dan pada waktu saat jam sekolah berlangsung tepatnya saat jam istirahat.

III. 2 Pemilihan Subjek atau variabel
Subjek yang dipilih ialah beberapa siswa jurusan TKJ 1 kelas X SMK Negeri 1 Jakarta. Siwa tersebut berjumlah 32 orang.
Nama Variabel


Satuan ukuran variabel


Instrumen untuk mengukur variabel
Variabel Terkait


Minat membaca pada siwa TKJ-1 Kelas X


Angket

Variabel Respon


Seluruh  siwa TKJ-1 Kelas X


Angka

Variabel Kontrol


Motivasi membaca


Angket











III. 3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang kami pilih adalah dengan menggunakan angket. Dimana pengertian dari Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna. (Arikunto, 2000) Orang yang diberi angket oleh peneliti disebut sebagai Responden. Dan jenis angket yang kami adalah angket jenis tertutup. Angket Tertutup adalah angket yang disajikan dalam bentuk  sedemikian rupa sehingga respopnden tinggal memebrikan tanda silang atau centang pada kolom atau tempat yang sesuai (Arikunto, 2000)

Bab IV
Hasil Penelitian
IV. 1 Analisis Data
  1. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 5 diantarnya mengatakan ya pada pernyataan suka membaca, 0 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  2. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 1 diantaranya mengatakan ya untuk tidak suka membaca , 12 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  3. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 11 orang mengatakan ya pada membacanya saat membaca tulisan, 0  mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  4. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 7 orang mengatakan ya pada mengantuk saat membaca tulisan, 8 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  5. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 4 orang mengatakan ya pada meninggalkannya saat membaca tulisan, 11 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  6. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 18 orang mengatakan ya pada hanya melihat saat membaca tulisan, 16 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  7. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 15 orang mengatakan ya pada membaca jika disuruh oleh guru 4 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  8. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 11 orang mengatakan ya pada membaca jika disuruh oleh orang tua 6 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  9. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 6 orang mengatakan ya pada membaca jika ditemani makanan 19 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  10. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 18 orang mengatakan ya pada membaca jika kemauan sendiri 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  11. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 6 orang mengatakan ya pada membaca jika hobi sendiri 17 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  12. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 12 orang mengatakan ya pada membaca jika tidak mempunyai kerjaan 3 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  13. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 21 orang mengatakan ya pada lebih menyerap informasi dengan membaca 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  14. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 19 orang mengatakan ya pada lebih menyerap informasi dengan Mendengarkan orang lain berbicara 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  15. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 16 orang mengatakan ya pada lebih menyerap informasi dengan melihat gambar 3 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  16. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 11 orang mengatakan ya pada suka membaca novel 12 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  17. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 20 orang mengatakan ya pada suka membaca artikel di internet atau sejenisnya 0 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  18. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 16 orang mengatakan ya pada suka membaca cerpen 6 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  19. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 5 orang mengatakan ya pada suka membaca puisi 12 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  20. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 12 orang mengatakan ya pada suka membaca koran 5 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  21. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 9 orang mengatakan ya pada suka membaca buku pelajaran 1  mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  22. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 4 orang mengatakan ya pada membaca seminggu sekali  15 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  23. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 0 orang mengatakan ya pada membaca sebulan sekali 24 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  24. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 0 orang mengatakan ya pada membaca dua bulan sekali 26 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  25. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 24 orang mengatakan ya pada membaca jika perlu 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  26. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 9 orang mengatakan ya pada membaca jika setiap hari 8 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  27. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 20 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan 1-10 halaman 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  28. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 14 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan 10-30 halaman 4 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  29. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 8 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan 30-50 halaman 9 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  30. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 5 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan >50 halaman 12 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  31. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 5 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan 1 buah buku 16 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  32. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 3 orang mengatakan ya pada saat membaca dapat mengahbiskan lebih I buah buku 19 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  33. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 11 orang mengatakan ya pada faktor yang pengahalang minat membaca adalah jejaring sosial  9 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  34. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 8 orang mengatakan ya pada faktor yang pengahalang minat membaca adalah lingkungan yang berisik 10 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  35. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 17 orang mengatakan ya pada faktor yang pengahalang minat membaca adalah  teman 5 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  36. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 17 orang mengatakan ya pada tujuan membaca ialah untuk refreshing 4 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  37. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 26 orang mengatakan ya pada tujuan membaca ialah untuk mencari informasi/ menambah wawasan 0 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  38. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 24 orang mengatakan ya pada tujuan membaca ialah untuk tugas sekolah 1 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  39. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 0 orang mengatakan ya pada tujuan membaca ialah agar dianggap pandai/rajin 27 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  40. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 22 orang mengatakan ya pada membaca merupakan kewajiban 2 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  41. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 17 orang mengatakan ya pada membaca merupakan hal yang menyenangkan 5 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  42. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 6 orang mengatakan ya pada membaca merupakan hal yang membosankan 10 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
  43. Dari hasil survei melalui angket dan dari 32  siswa 2 orang mengatakan ya pada membaca merupakan hal yang menyebalkan 18 mengatakan tidak dan sisanya terkadang
IVI. 2 Hasil Analisis
  1. Dari hasil survei melalui angket lebih banyak siswa yang mengatakan terkadang pada suka membaca dengan perolehan suara 27 orang
  2. Dari hasil survei lebih banyak yang mengatakan terkadang pada tidak suka membaca sebanyak 19 orang.
  3. Saat melihat banyak tulisan siswa kelas X SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 lebih banyak hanya melihat dengan suara 18, kemudian membaca dengan suara 11, mengantuk dengan suara 7 dan yang terkahir meninggalkannya dengan suara 4.
  4. Penyebab siswa kelas X SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 membaca ialah karena kemauan saya dengan suara 18, karena disuruh oleh guru dengan suara 15, karena tidak punya pekerjaan lain dengan suara 12,  karena disuruh oleh orang tua 11, karena hobi  dan  dan ditemani makananan dengan suara 6
  5. Siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 lebih menyerap informasi dengan membaca dengan perolehan suara 21 dengan mendengar orang lain berbicara denga perolehan suara 19 dan melihat gambar dengan perolehan suara 16
  6. Siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 lebih suka membaca artikel di internet atau sebagainya dengan suara 20, cerpen dengan suara 16, membaca koran dengan 12 suara, membaca novel dengan suara 11, dan membaca buku pelajaran dengan suara sebanyak 9.
  7. Siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 membaca jika perlu dngan perolehan suara sebanyak 24, setiap hari dengan suara 9, seminggu sekali dengan suara 4 dan yang terkahir untuk membaca sebulan sekali dan dua bulan sekali dengan suara 0
  8. Siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 dapat membaca dengan menghabiskan 1-10 halaman dengan suara 20, 10-30 halaman dengan suara 14, 30-50 halaman dengan suara 8, >50 halaman dengan suara 5, 1 buah buku 5, dan >1 buah buku dengan suara masing-masing 3
  9. Fakatoryang penghalang siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 membaca ialah lingkungan yang berisik dengan suara 17, jejaring sosilal dengan suara 11 serata teman dengan suara 8
  10. Tujuan membaca siswa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 ialah untuk menambah wawasan dengan suara 26, refreshing 17, dan tugas sekolah dengan perolehan suara 24 dan untuk dianggap rajin atau panadai dengan suara 0
  11. Menurut siswa kelas X SMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 membaca merupakan kewajiban dengan suara 22, hal yang menyenangkan dengan suara 17, hal yang membosankan dngan suara 6 dan hal yang menyebalkan dengan suara 2
  12.  
     
Bab V
Penutup
V. 1 Kesimpulan
Minat membaca berbeda dengan membaca.Minat ialah ketertarikan terhadap suatu objek.Sedangkan, membaca ialah objek dari minat.Orang yang dapat membaca belum tentu menaruh minat pada membaca.Minat membaca pada sisiwa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 kurang baik. Untuk meningkatkan lagi minat membaca pada sisiwa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 dapat dilakukan dengan cara:
  1. Buatlah jiwa seseorang trsebut bersedia untuk membaca
  2. Untuk membuat agar sesorang minat membaca kita harus memerintakhannya agar terbiasa membaca. Dan memerintahkan yang baik ialah mengajukan pertanyaan terlebih dahulu, bukan langsung memberi perintah.
  3. Jika dalam minat membaca tersebut sudah ada peningkaan pujilah walau peningkatannya hanya sedikit
  4. Mengetahui faktor pengahalang minat membaca pada sisiwa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 kemuadian faktor penghalang tersebut diminimalisirkan
  5. Mengetahui faktor pendorong pada sisiwa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 kemuadian faktor pendorong tersebut dioptimalkan

V. 2 Kritik dan Saran
Saran kami ialah sebaiknya para pembimbing dapat meningkatan minat membaca pada sisiwa kelas XSMK Negeri 1 Jakarta jurusan TKJ 1 bukan tertuju pada belajrnya.Jika seseorang menaruh minat pada membaca untuk belajar orang tersebut dapat melakukannya dengan baik.

Lampiran:
Angket yang digunakan
Keterangan
Ya
Tidak
Terkadang


1. Saya suka membaca




2. Saya tidak suka membaca




  3. Saat saya melihat banya tulisan saya ingin


A.    Membaca




B.     Mengantuk




C.     Meninggalkannya




4. Saya membaca jika saya



A.    Disuruh oleh Guru




B.    Disuruh oleh oorang tua saya




C.    Ditemani makanan




D.    Kemauan saya




E.     Hobi saya




5. Saya lebih menyerap informasi dengan



A.     Membaca




B.      Mendengarkan orang lain berbicara




6. Saya suka membaca



A.  Novel




B.   Artikel di internet, koran atau sejenisnya




C.   Cerpen




D.  Puisi




7. Saya membaca sebanyak



A.  Seminggu sekali




B.   Sebulan sekali




C.   Dua bulan sekali




D.  Jika perlu




8. Jika saya membaca saya dapat mengahbiskan sebanyak



A.1-10 halaman




B. 10-30 halaman




C. 30-50 halaman




D.>50 halaman




E. 1 buah buku




F.  >1 buku




9. Faktor yang menyebabkan saya malas membaca adalah



A.  Tv




B.  Jejaring sosial




C.  Teman




D.  Lingkungan yang berisik




10. Tujuan saya membaca dalah



A.  Untuk refreshing




B.  Mencari informasi/menambah wawasan




C.  Tugas sekolah




D.  Agar dianggap pandai / rajin




11. Menurut saya membaca itu merupakan



A.    Kewajiban




B.     Hal yang meyenangkan




C.     Hal yang membosankan




D.    Hal yang menyebalkan




0 komentar:

Posting Komentar